JURUSAN ETNOMUSIKOLOGI ISI SOLO

WE ARE BLENDING & FUSING, WITHOUT ANY BOUNDARIES

PEREMPUAN DI BALIK SENI TRADISI

Posted by etnomusikologisolo pada Juni 29, 2010

Oleh: Bondet Wrahatnala. masbond_2008@yahoo.com

(Dosen Etnomusikologi ISI Surakarta)


Isu gender semakin menarik untuk dibicarakan dan dikaitkan dengan banyak hal. Termasuk dalam tradisi dan budaya Jawa, yang kental dengan aroma patriarkhat. Di lingkup budaya yang masih menganggap perempuan sebagai wanita (wani ditata) dan kanca wingking ini, seolah-olah membelenggu kreativitas dan etos perempuan untuk tampil dalam percaturan budaya. Apakah ini berarti, perempuan tidak boleh berkembang? Dan apakah ini juga berarti perempuan hanya sebagai objek yang boleh dengan seenaknya “digarap”?

Saya akan memandang hal ini dalam dunia kesenian tradisi khususnya di Jawa, yang ternyata sejak dulu masih menempatkan perempuan pada posisi tersebut. Seperti contohnya, seni tari yang cukup terkenal yakni tayub. Penempatan perempuan sebagai objek sangat kentara dalam bentuk seni ini. Mulai dari sisi hiburan, sampai pada pemuas syahwat mata kaum lelaki, yang konon ketika saya melakukan pengamatan di salah satu daerah sudah berada di bawah pengaruh minuman keras. Gerakan dan performa telah didesain sedemikian rupa memang untuk mengumbar kemolekan tubuh, kecantikan paras, dan merdunya desah suara para penayub ini.

Tidak mengherankan, karena ketika melakukan pendekatan dan penggalian referensi tentang tayub ini, dikatakan kesenian ini sangat dipengaruhi oleh perangai para penjajah belanda. Yang konon, sangat erat hubungannya dengan tarian, perempuan dan alkohol. Di samping tayub, masih ada bentuk kesenian lainnya (bahkan bisa dikatakan sudah ngepop) yang mengeksploitasi erotisme perempuan, seperti dangdut. Yang dapat dikatakan sama kondisinya dengan tayuban tersebut. Namun, yang menjadi permasalahan di sini posisi perempuan yang menjadi objek dalam kesenian ini semakin tampak, dan seolah biasa. Ini yang sangat menggelitik saya untuk menggugah semangat kaum perempuan.

Sebagai perbandingan untuk masa sekarang, perempuan telah menempatkan diri sebagai subjek dalam seni tradisi. Munculnya seniman-seniman perempuan yang mencoba untuk mengungkapkan perasaan secara halus dalam bentuk karya seni, patut mendapatkan acungan jempol. Pada dasarnya, para seniwati (sebutan untuk seniman perempuan) ini mencoba untuk mengikis rezim patriarkhat yang membelenggu celah-celah kreativitas perempuan. Nyatanya, karya para seniwati ini juga mendapat tempat dan posisi yang selayaknya. Bukan lagi sebagai pelengkap, namun beberapa juga menjadi trendsetter bagi karya yang lainnya.

Dengan kata lain, sebenarnya paradigma miring mengenai perempuan sudah berganti dengan kesejajaran. Perempuan tidak lagi dipandang sebagai objek dalam seni tradisi, meskipun bentuk kesenian yang menempatkannya masih hidup dan berkembang. Tetapi, setidaknya dunia kesenian saat ini sudah mampu memberikan tempat dan ruang kebebasan bagi para kreator-kreator perempuan untuk mengembangkan kreativitasnya. Tidak lagi ada sekat yang membelenggu ajang aktualisasi diri kaum hawa. Keran-keran sudah dibuka, tinggal sekarang yang harus dilakukan adalah jangan sampai itu tersumbat kembali dan menambah debit karya yang dihasilkan oleh kaum perempuan.

Fenomena yang saya sebutkan di atas bukan tanpa alasan, karena posisi perempuan memang tidak seharusnya demikian. Sudah saatnya perempuan untuk turut “berdialog” dan memberikan sumbangsihnya sebagai subjek dalam seni tradisi. Meskipun kehidupan ini dikungkung oleh sistem budaya yang bersifat patriarkhat, namun demikian tidak menutup kemungkinan kaum perempuan untuk bisa hidup dengan kreativitasnya, dengan kemampuannya, dengan segala yang dimilikinya untuk menyejajarkan diri dengan kaum pria.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: