JURUSAN ETNOMUSIKOLOGI ISI SOLO

WE ARE BLENDING & FUSING, WITHOUT ANY BOUNDARIES

Industri Kreatif Sinergi Perguruan Tinggi Seni

Posted by etnomusikologisolo pada April 2, 2010

Aris Setiawan
Aris Setiawan

Pada dasarnya, industri kreatif bukanlah barang baru dalam percaturan budaya global. Sejak dekade tahun 1970-an dan hingga saat ini, banyak ‘sebenarnya’ ruang-ruang yang berporos sebagai industri kreatif bermunculan (baca industri perfileman). Hanya saja gaung dan area pancarnya dengan istilah ‘industri kreatif’ belum banyak dikenal kala itu. Baru pada tahun 2009 kemarin, nama ‘industri kreatif’ ramai diperbincangkan hingga kini. Hal ini ditandai pada Desember dua tahun lalu (2008), Menteri Perdagangan, Mari Elka Pangestu, menandaskan bahwa industri kreatif memiliki potensi besar dan mampu tumbuh lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan perekonomian. Ruang penjabarannya -industri kreatif- menjadi begitu universal, memasuki berbagai ranah dan sketsa kehidupan, dan seni termasuk salah satu diantara yang menerima dampak terbesarnya.

Berkaitan dengan hal tersebut, isu spesifik yang dapat dilontarkan adalah bagaimana sikap Perguruan Tinggi Seni dewasa ini dalam menanggapi bergulirnya wacana industri kreatif? Akankan isu dan wacana industri kreatif dipandang hanya sebatas geliat euforia sesaat saja yang kemudian sirna ditelan waktu? Atau sebaliknya, Perguruan Tinggi Seni justru menanggapi bergulirnya wacana industri kreatif sebagai wadah dan kesempatan yang ideal guna menunjukkan jatidirinya sebagai garda depan incubator kreativitas?

Perguruan Tinggi Seni

Bergerak pada ruang pendidikan, Perguruan Tinggi Seni di Indonesia (ISI Yogyakarta, ISI Surakarta, ISI Denpasar, STSI Bandung, STSI Padang Panjang, STKW Surabaya) secara tidak langsung meletakkan dirinya sebagai sosok yang memiliki kuasa dalam “kontrol-mengontrol” perkembangan seni di Nusantara. Namun, kuasanya yang demikian harus senantiasa disesuaikan dengan pilar utama yang mendasarinya, tri darma perguruan tinggi

Dengan demikian, dalam menyikapi isu industri keratif yang selama ini mengemuka, tentu wajar jika pertanyaan terkait dengan bagaimana paradigma dan langkah strategis sebagai upaya implementasi industri kreatif yang merujuk pada Tri Darma Perguruan Tinggi? Pertanyaan yang demikian menjadi penting untuk digulirkan sebagai upaya conditioning dan reposisi peran serta visi misi Perguruan Tinggi Seni yang harusnya dapat dengan lentur berubah, ketika dihadapkan dengan wacana dan fenomena global yang memiliki implikasi besar terhadap kelangsungan hidupnya.

Apalagi Perguruan Tinggi Seni selama ini lebih menekankan fungsinya sebagai inkubator penjaminan dan pengembangan ilmu pengetahuan, terutama seni. Dengan demikian, potensi untuk munculnya format-format berupa ide kreatif seharusnya dapat bergulir secara konsisten. Oleh karena itu, Perguruan Tinggi Seni dihadapkan pada fungsinya yang ganda (dwi fungsi). Di satu sisi menjelma sebagai ‘tongkat estafet’, yang menguhubungkan (seni) tradisi dari satu generasi ke generasi berikutnya. Secara implisit juga menjadi “benteng” dengan pola kerja utamanya mengemban upaya pelestarian dan keberlangsungan seni tradisi. Sementara di sisi yang lain, karena ber-alaskan ‘ilmu pengetahuan’ maka Perguruan Tinggi Seni menjadi wadah eksperimentatif dalam upayanya menggali terobosan-terobosan (kekaryaan) baru yang lebih kreatif.

Belakangan ini, dengan gempuran isu industri kreatif, kiranya fungsi kedua tersebut di atas kini menjadi semakin penting untuk dikumandangkan. Persoalan utama yang saat ini dihadapi adalah bagaimana menstimuli hasil dari kreativitas sebagai lahan industri kreatif? Guna menjawab persoalan ini, kiranya dibutuhkan berbagai cara untuk mewujudkannya, diantaranya dengan menggelar berbagai kegiatan yang sifatnya simulatif semisal pelatihan, kerja lapangan, magang serta seminar. Atau bahkan membuka program studi (jurusan) baru yang berbasis industri kreatif, isu ini lah yang saat ini ramai diperbincangkan di ISI Surakarta. Hal ini menjadi poin penting karena, selain berpegang pada posisi saintifik sebagai pilar pendidikan, Perguruan Tinggi Seni tentunya akan lebih komprehensif jika didampingi keilmuan yang sifatnya aplikatif (Djohan, 2009).

Sinergi Industri

Sementara itu untuk masuk pada ruang industri kreatif tentunya dibutuhkan pribadi yang kreatif pula. Pada konteks yang demikian, Perguruan Tinggi seni memiliki peran penting dalam mencetak pribadi-pribadi (lulusan) yang memiliki sikap dan potensi kreatif. Daniel L. Pink lewat bukunya The Whole New Mind (2005) mengungkapkan bahwa pribadi kreatif adalah pribadi yang memiliki kemampuan untuk menemukan terobosan-terobosan baru dalam bidangnya. Kebaruan yang ada tidak semata didasarkan pada sifatnya yang duplikatif atau bahkan superficial. Dalam kacamata kekaryaan seni, kebaruan memiliki implikasi yang logis yakni mampu menimbulkan cara pandang lain dan mampu menstimuli lahirnya karya-karya baru yang lebih berbobot. Efeknya tentu kembali lagi pada dinamisasi kehidupan seni itu sendiri.

Oleh karena itu, Perguruan Tinggi Seni harus mampu mempelopori hal di atas. Agar karya-karya mahasiswa maupun lulusannya, sudah semestinya tidak hanya menjadi sekadar pajangan atau bahkan tumpukan benda sejarah di perpustakaan semata. Karya-karya kreatif yang ada harus sudah mulai disinergikan dengan format “industri” agar keberadaanya mampu berdiri dalam skala luas yang dikenal khalayak umum. Dengan demikian derajad kekaryaan akan semakin baik karena timbulnya budaya bersaing yang kompetitif, serta kehidupan seniman pengkarya dapat terjamin keberlangsungannya.

Keseimbangan Estetika

Memasuki wilayah industri kreatif tidak berarti harus terjerumus pada spektrum usaha ataupun bisnis semata. Oleh karena itu penekanan utamanya tidak hanya dalam skala material atau ekonomi, namun juga bermuara pada intelektualitas, ide, gagasan yang diperoleh dalam pola pemikiran universal (Gong, 2009). Terlebih bagi Perguruan Tinggi Seni, kehadiran industri kreatif tidak semestinya ‘mengkerdilkan’ kualitas kekaryaan yang ada. Dengan incubator sisi ilmu pengetahuan dan intelektualitas yang mumpuni, Perguruan Tinggi Seni diharapkan dapat memformat pola kerja industri kreatif secara komprehensif dengan berbagai pertimbangan yang ada. Hasilnya akan memberi satu keseimbangan estetika bagi klayak umum dan bagi seniman itu sendiri. Dengan demikian karya-karya dalam format industri kreatif yang dihasilkan akan memberi wacana baru bagi khalayak luas, menjadi satu hal yang populis namun sangat pekat dengan bingkai kreativitas dan intelektualitas yang tinggi.

Aris Setiawan

Etnomusikolog, Staf Pengajar di ISI Surakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: